Mengenal Lebih Dekat Sosok Pengendali Penyebrangan Laut Gilimanuk, Made Astika

Buleleng, Dewatanews. Com —   Pelabuhan Gilimanuk merupakan Pelabuhan Kapal Feri yang ada di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kab...


Buleleng, Dewatanews. Com — Pelabuhan Gilimanuk merupakan Pelabuhan Kapal Feri yang ada di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali yang menghubungkan antara Pulau Bali dengan Pulau Jawa via perhubungan laut (Selat Bali).  Pelabuhan ini dipilih oleh masyarakat, termasuk wisatawan manca negara  yang ingin menuju ke Pulau Jawa dan sebaliknya dengan menggunakan jalur laut.
Setiap harinya, ratusan perjalanan kapal melayani arus penumpang dan kendaraan berbagai jenis dari Bali ke Pulau Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk. Pelabuhan ini beroprasi 24 jam, kecuali hari Raya Nyepi, dilakukan penutupan sementara. Rata-rata durasi perjalanan yang diperlukan antara Gilimanuk – Ketapang atau sebaliknya dengan Kapal Feri adalah sekitar 1 jam lamanya.
Kepala Unit Pelabuhan Penyebrangan (KUPP) Gilimanuk I Made Astika, SH menyebutkan, dalam mengemban tugas sebagai abdi negara akan selalu menjaga dan menerapkan kedisiplinan, terutama kepada anggota didalam menjalankan tugas. Karena dalam mengemban tugas ini, dirinya tidak akan main-main sebagai pucuk pimpinan.
“Kami yang diberikan tugas oleh negara, selalu  menerapkan kedisiplinan terhadap bawahan karena sekarang ini marak sekali adanya pungli (Pungutan Liar). Kami tidak ingin anak buah kami nantinya ikut terlibat dalam hal itu,” kata Made Astika ketika ditemui di Pelabuhan Gilimanuk, Minggu (28/05).
Pejabat Pelabuhan Gilimanuk berpostur atletis asal Desa Anturan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng yang belum seumur jagung ini menegaskan, jika nantinya ada salah satu anggota dari petugas di Gilimanuk yang melanggar, jelas akan ditindak tegas, karena Pelabuhan itu sangat rentan adanya pungli. Sebab, dirinya memulai dari anggota  yang harus disejahterakan untuk mengantisifasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Merupakan tantangan langkah awal melaksanakan tugasnya di Pelabuhan Gilimanuk, Made Astika dihadang perayaan bagi umat muslim, yakni Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah yang jatuh pada 26 Juni 2017.
Kepala KUPP Gilimanuk, Made Astika menyebutkan, dalam mengatasi membludaknya pengguna jasa transportasi laut pasca lebaran nanti, pihaknya akan menyiapkan 50 kapal dan jarak tempuh yang biasanya menggunakan  limit waktu  1 jam akan dipercepat menjadi 50 menit.
”Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pasca lebaran nanti  kami dari Syah Bandar Gilimanuk sudah siapkan armada kapal sebanyak 50 unit, kapal-kapal yang akan digunakan dan sudah kami lakukan uji petik serta mendata dari segi  kelayakanya, dokumen dan pengawakan.
”Jika ada nanti kapal yang belum memenuhi syarat, kami akan suruh mereka mengurus kembali dan memperbaiki kondisi kapalnya. Kami sangat menerapkan kedisiplinan dan mengutamakan pelayanan keselamatan bagi para pengguna jasa,” imbuhnya.


Di jajaran perhubungan laut khususnya dan perhubungan darat, sosok Made Astika sudah taka sing lagi. Sebelum menuju ujung barat Pulau Dewata ini, ia sempat menjabat di PPI Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng  dengan jabatan Bendahara Material. Penulis kenal dekat dengan Astika yang dilahirkan di Desa Anturan, Buleleng, 23 November 1969.
Selain melaksanakan tugas negara, Astika juga senantiasa berada ditengah-tengah masyarakat, karena jabatan yang diemban merupakan titipan Tuhan yang pada akhirnya kembali ditengah-tengah masyarakat.
Memaparkan dirinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Made Astika mengaku memasuki jajaran Perhubungan, pada  tahun 1993 ditugaskan di Pelabuhan Benoa, Badung, Bali sebagai staf KPLP. Setahun kemudian, mendapat kepercayaan tugas  di Jembatan Timbang, Yeh Anakan, Desa Banjar Asem Kecamatan Seririt, Buleleng hingga tahun 1999.
Pasca kerusuhan hingga kantor Jembatan Timbang tersebut dibakar masa tak dikenal, ia mendapat tugas yang senada di Jembatan Timbang Batubulan, Kabupaten Gianyar, Bali. Dari Batubulan, lagi-lagi kembali ke Jembatan Timbang di Yeh Anakan, Banjar Asem, Buleleng yang sepi tanpa aktivitas, sehingga oleh pimpinan dialihtugaskan ke Jembatan Timbang Cekik, Gilimanuk.
Dengan semangat ethor kerja yang tinggi, setiap hari  dari rumah tempat tinggal di Desa Anturan, Buleleng menelusuri jalan pantai utara (pantura) Singaraja-Gilimanuk kisaran 80 Km, dengan kendaraan bermotor roda dua, tugas tetap bisa dilaksanakan.
Saking setiap hari SingarajaCekik, Gilimanuk melintasi kantor Jembatan Timbang di Yeh Aanakan, Desa Banjar Asem yang tanpa aktivitas dan kalangan warga setempat memanfaatkan areal tersebut sebagai tempat gembala sapi.
Dengan kondisi seperti itu, ia sebagai petugas di jajaran Perhubungan segera melaporkan ke Dinas Perhubungan Provinsi Bali, hingga kantor tersebut di perbaiki, sehingga aktifitas terhadap jasa Jembatan Timbang itu kembali difungsikan.
Astika kembali meninggalkan Jembatan Timbang Desa Cekik Kecamatan Gerokgak, dengan mengajukan permohonan untuk pindah ke Jembatan Timbang, Banjar Asem dan kembali bertugas sebagai penjaga Jembatan Timbang di Banjar Asem.
“Dulu warga yang tinggal di seputaran Jembatan Timbang tersebut sempat menggunakannya sebagai lahan gembala  sapi. Kami pernah melihatnya, atas keprihatinan itu saya laporkan kpada pimpinan dan saya mengajukan pindah kembali ke Buleleng dan ditugaskan kembali ke Jembatan Timbang Yeh Anakan, Seririt. Situasi kembali normal dan aktifitas di Jembatan berjalan sebagai mana mestinya,” paparnya mengenang pengabdian tugasnya.
Kemudian, kisaran Tahun 2002 di pindah ke Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di  desa Sangsit, Kecamatan Sawan dengan jabatan Bendahara Material Pelabuhan Buleleng selama dua periode April  2017.
Saat mengikuti  seleksi uji  PKP ( Pengawas Keselamatan Pelayaran), dirinya lolos dan menjadi Kepala PKP di Pelabuhan Buleleng. Pada bulan Maret 2017, dirinya  mengundurkan diri menjadi Kepala PKP Buleleng karena mengikuti Tes Assesmet di Kementrian Perhubungan  RI, Jakarta  yang diikuti oleh 209 peserta se-Indonesia.
Dari Dinas Perhubungan Provinsi Bali diikuti empat orang, yakni I Made Swanda dan I Made Oka asal Nusa Penida, Ketut Muliana asal Padangbai dan I Made Astika S.H asal Desa Anturan Kabupaten Buleleng. Pria dua anak, satu istri ini tidak menyangka kalau dirinya akan lolos dan memiliki nilai tertinggi kedua se Indonesia setelah Capten. Binsar Holomoan Tambun, M.M asal kepulauan Merauke.
”Kami tidak menyangka bisa seperti ini, padahal teman-teman kami dipusat sangat pintar-pintar  dan mempunyai banyak pengalaman dari kami. Dengan kepercayaan yang diberikan ini, kami berterimakasih kepada atasan,  juga keluarga dan dukungan dari masyarakat semua. Ini merupakan tugas yang harus kami emban dengan baik,” imbuhnya.
Selama menjadi ASN di jajaran Perhubungan dan ditugaskan di Kabupaten Buleleng, Made Astika dalam kesehariannya setelah pulang dari melaksanakan tugas, senantiasa membantu istri dirumah yang berjualan di warung, depan rumahnya, Desa Anturan. Selamat & success.

Made Tirthayasa.—

Berita Terkait

Breaking News 741337875506664981

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

YURA Shop

Populer

item