Jalan Masuk ke Hotel di Kawasan Lovina Makin Sempit

Buleleng, Dewata News.com —   Kawasan wisata Lovina sebagai salah satu obyek wisata Kalibukbuk (sesuai Perda Gubernur Bali), namun lebi...


Buleleng, Dewata News.com — Kawasan wisata Lovina sebagai salah satu obyek wisata Kalibukbuk (sesuai Perda Gubernur Bali), namun lebih dikenal dengan sebutan kawasan wisata Lovina sampai saat ini oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng masih layak untuk ”dijual”  kepada para wisatawan mancanegara maupun wisawatanb nusantara.
 
Kendati para wisatawan mancanegara atau keren disebut bule lama tinggal memanfaatkan sarana hotel maupun vila yang ada di kawasan wisata Lovina, khususnya di kawasan Bina Ria sebagai sentra Lovina, tetapi kalau meninggalkan kesan negatip akan merugikan pelaku pariwisata, sekaligus pajak hotel dan restoran menurun.
 
”Terlebih lagi kedatangan tamu yang berkunjung ke Lovina tidak ada peningkatan yang signifikan.  Dan akan mubazir diselenggarakan festival lovina yang menghabiskan ratusan juta rupiah, jika pemerintah atau dinas terkait tidak memperhatikan penataan kawasan secara jelas dan pasti,”  kesan salah seorang pelaku pariwisata di kawasan Bina Ria, Lovina, Jumat (10/02).
 
Salah satu contoh tidak adanya ketegasan yang memiliki kewenangan di Buleleng, lanjut pemilik hotel yang tak mau disebut jati dirinya, terjadinya saluran air yang menyempit karena ”dicaplok” untuk bangunan, sehingga pada musim hujan terjadi banjir di jalan masuk menuju patung Dolpin, pantai Bina Ria.
 
Termasuk pula adanya rambu larangan parker di kawasan jalan Bina Ria namun tak digubris pemilik mobil maupun sepeda motor yang parker di bawah rambu larangan tersebut.
 
”Dan lebih parah lagi, jalan masuk ke hotel maupun vila yang ada di kawasan Bina Ria sampai saat ini tak mendapat penanganan dari pemerintah. Jalan yang awalnya lebar 5 meter, kini makin sempit menjadi 1,5 meter, sehingga kalau mobil papasan tidak bisa. Akibatnya, mobil yang dibawa tamu, beberapa hari lalu sempat bocor karena pecahan kramik pinggir jalan di jalan sempit itu,” imbuhnya.
 
Ia menyimak penyebab makin sempitnya jalan masuk ke hotel maupun vila itu, karena pemilik bangunan di kawasan jalan itu, tidak saja memanfaatkan sempadan jalan, melainkan sampai badan jalan, dipergunakan untuk taman (nanam pohon, untuk jemuran dan parkir), sehingga satu mobil saja sukar lewat apalagi macro bus, yang menimbulkan kesan kumuh agar tidak menimbulkan kesan korban pembiaran.
 
Apabila kedaan seperti ini dibiarkan, tidak ada kenyamanan, pelaku pariwisata taat aturan ini nmengkhawatirkan Lovina, bahkan pariwisata Buleleng akan tinggal “sejarah “ (Buleleng tourism will be history).  Karena itu, pelaku pariwiata ini berharap pemerintah melalui dinas terkait segera menata sebelum terlambat. (DN ~ TiR).

Berita Terkait

Kabar Buleleng 5013790880146542535

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

YURA Shop

Populer

item