Cikal Bakal Keberadaan PWI di Buleleng

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI),  yang didirikan di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 9 Februari 1946 untuk waktu yang tidak ditentukan...


Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang didirikan di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 9 Februari 1946 untuk waktu yang tidak ditentukan. PWI sebagai organisasi Wartawan Indonesia independen dan professional berasaskan Pancasila tanpa memandang,baik suku, agama,dan golongan maupun keanggotaan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan.
(Pasal 1 Peraturan Dasar Peraturan Rumah Tangga).
 
Kemudian dengan Keputusan Presiden RI No. 5 tahun 1985 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada tanggal 23 Januari 1985 ditetapkan menjadi Hari Pers Nasional (HPN).  Dewan Pers kemudian menetapkan Hari Pers Nasional (HPN) dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di ibukota provinsi se-Indonesia.
 
Untuk tahun 2017 ini, peringatan HPN yang puncaknya digelar 9 Februari, yakni dengan tema ”Pers dan Rakyat Maluku Bangkit dari Laut” yang rencananya akan dihadiri Presiden Joko Widodo.
 
”Pasukan” PWI Provinsi Bali, seperti diungkapkan Sekretaris Sastra Dinata, telah berangkat ke kota Ambon, mengingat semarak HPN 2017 diwarnai dengan kegiatan Pameran HPN dan Maluku Expo 2017 di Lapangan Merdeka, Kota Ambon.
 
Acara tersebut diperkirakan akan dihadiri oleh lebih dari 2500-3500 orang wartawan, baik wartawan lokal maupun wartawan asing, serta diharapkan dapat memberikan dampak yang besar bagi pembangunan Provinsi Maluku.
 
Selain booth pameran, juga ada panggung hiburan di depan Kantor Gubernur Maluku yang akan diisi oleh banyak hiburan seperti penampilan dari penyanyi asli Ambon, Glenn Fredly.
 
Pameran HPN dan Maluku Expo 2017 ini diprediksi akan banyak menyedot animo masyarakat Ambon untuk berkunjung melihat kegiatan ini.
 
Dibalik semarak peringatan Hari Ulang Tahun PWI dan HPN 2017 di Kota Ambon itu, ada baiknya menyimak perjalanan panjang proses keberadaan PWI Perwakilan dan berdasarkan penyempurnaan Peraturan Dasar Peraturan Rumah Tangga (PD PRT) PWI, PWI Cabang berobah menjadi PWI Provinsi dan PWI Perwakilan menjadi PWI Kabupaten, termasuk PWI Kabupaten Buleleng.
 
Penulis (Made Tirthayasa) sebagai salah satu saksi yang mendambakan terbentuknya PWI Buleleng, sebagai organisasi wartawan satu-satunya di kabupaten yang ada di Provinsi Bali. Mengingat dari PD PRT, terbentuknya sebuah perwakilan organisasi professional dan independen ini memenuhi syarat, baik adanya sebuah media (RRI Singaraja) dan sekurang-kurangnya dari keanggotaan PWI ada 5 Anggota Biasa.
 
Bersama rekan-rekan seprofesi untuk mewadahi perjuangan terbentuknya PWI Perwakilan Buleleng melalui PWI Cabang Bali, sepakat membentuk PWI Perwakilan (Persiapan) Buleleng. Kesepakatan itu ditandai dengan pembentukan Pengurus PWI Pewrakilan (Persiapan) Buleleng periode 1996-2000. Kepengurusan pertama dari organisasi wartawan di Buleleng ini hampir semuanya sebagai awak media radio milik pemerintah di Singaraja, kecuali penulis yang juga sempat mengabdi selama 6 tahun di RRI ini, sepakat dipercaya sebagai Ketua, sedangkan Sekretaris Wayan Mimbar, SH yang juga Kepala Studio RRI Singaraja.
 
Struktur jabatan kepengurusan lain, seperti Wakil Ketua: Drs. Putu Sudana, Wakil Sekretaris: Nyoman Muruk.Bendahara: Putu Sudarma. Kepengurusan dilengkapi dengan Seksi Pendidikan dan Latihan (Diklat): Zulkan Wiyatmaja, Seksi Olah Raga (SIWO): Drs.Made Roy Astika dan Drs.Nyoman Suasthawan. Sedangkan seksi Kesejahteraan: Ni Made Winingsih dan Gede Wijana.
 
Sebagai organisasi wartawan yang mempunyai peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan berenagara,PWI Buleleng sejak keberadaannya tahun 1970 menjelang sirnanya Orde Lama menjadi Orde Baru dengan nama Korps Wartawan Singaraja (KWS),senantiasa mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat.
 
Wujud nyata dari perhatian pemerintah daerah kabupaten sejak kepemimpinan Hartawan Mataram sebagai bupati, adanya bantuan sarana untuk tempat berkumpulnya para ”kuli tinta”  waktu itu di gedung bekas gedung Partai Nasional Indonesia (PNI) di Jalan Dewi Sartika. KWS menempati ruang lantai satu,karena lantai dua untuk aktivitas kegiatan Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Buleleng.
 
Organisasi wartawan – KWS dengan Ketua Harun Daeng Malino, didampingi Gede Mardika Wijaya sebagai Wakil Ketua dan penulis sebagai sekretaris dengan Bendahara PutuMangku tiada hari tanpa aktivitas. Kesemuanya itu berkat terjalinnya hubungan baik dengan pemerintah daerah maupun dinas/instansi lain di Kabupaten Buleleng.
 
Begitu juga bagi anggota dalam melaksanakan tugas sebagai wartawan di masing-masing media, yang waktu itu ada media cetak untuk lokal Bali, hanya Harian Angkatan Bersenjata (yang saat ini Nusa Bali,setelah Nusa Tenggara) dan Bali Post maupun LKBN Antara, di samping media elektronik RRI dan TVRI.
 
Nama organisasi wartawan yang tanpa anggaran dasar ini menggema sampai di pusat,Jakarta karena aktivitas study banding ke beberapa kota di Jawa. Dan dalam melaksanakan tugas senantiasa mematuhi  Kode Etik Jurnalistik (KEJ), di samping memberi kesempatan anggota mengikuti diklat
 
Hubungan keharmonisan di antara anggota seperti keluarga, juga diwujudkan dengan diadakan kegiatan arisan setiap bulan dari para istri wartawan yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) dipimpin Nyoman Tirta Aryani, maupun kegiatan kewanitaan.
 
Dari sekretariat di Jalan Dewi Sartika, selanjutnya diberikan pinjam pakai sebuah ruangan, berdampingan dengan bangunan ruang kerja Bupati Hartawan Mataram dan Sekpri Arya Wiryasutha, juga Humas Putu Tjawi  di kantor bupati Buleleng, yang saat ini adalah halaman rumah jabatan bupati di Jalan Ngurah Rai.
 
Masih dibawah kepemimpinan penulis, sempat pula pemerintah memberikan pinjam pakai sebuah bangunan di sebelah timur Museum Buleleng saat ini. Dan terakhir ketika kepemimpinan Bupati Ketut Wirata Sindhu yang mantan Kakanwil Deppen Provinsi Bali, PWI Perwakilan (Persiapan) Buleleng menempati dua buah ruangan satu atap dengan Mawil Hansip Buleleng, sebagai Balai Wartawan yang kini menjadi Kantor Lurah Banjar Bali. Tulisan Balai Wartawan yang begitu “menantang” adalah goresan tangan perupa sahabat sejati, Made Hardika.
 
Bahkan di Balai Wartawan ini sempat menjadi tempat diselenggarakannya peringatan HUT PWI dan HPN, sekaligus peresmian Balai Wartawan oleh Bupati Ketut Wirata Sindhu didampingi Ketua PWI Cabang Bali, Made Nariana.
 
Berkat perjuangan melalui PWI Cabang Bali dan Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng, akhirnya PWI Pusat mengeluarkan Surat Keputusan (SK) terbentuknya PWI Perwakilan Buleleng.
 
Melalui musyawarah luar biasa di sebuah hotel Bali Taman milik Ketut Elnglan di kawasan Tukadmungga, Buleleng dipimpin Ketua PWI Cabang Bali Djesna Winada berhasil menetapkan pengurus PWI Perwakilan Buleleng, dengan Ketua Drs. Putu Sudana dan Sekretaris Drs. Nyoman Suasthawan.
 
Menurut Djesna Winada, karena penulis sudah dua periode memimpin PWI Perwakilan (Persiapan), sehingga tidak bisa diikutkan dalam pemilihan jabatan ketua.
 
Ternyata setelah organisasi wartawan di Buleleng ini resmi menjadi PWI Perwakilan dibawah kepemimpinan Putu Sudana malah langkah mundur, karena tak pernah atau jarang pertemuan, juga sepi aktivitas kegiatan dan diambil alih gedung Balai Wartawan tanpa perjuangan untuk memohon tempat lain. Sejak itu, kesekretariatan “numpang” di RRI Singaraja.
 
Setelah kepengurusan PWI Perwakilan Buleleng mengalami pergantian yang dipercayakan kepada Drs.Nyoman Suasthawan didampingi Wakil, Made Drs. Made Roy Astika dan Gusti Bagus Mulyadi Putra juga tidak menunjukkan aktivitas yang signifikan, hingga ditinggal Nyoman Suasthawan pindah tugas ke RRI Makassar.
 
Hampir tiga tahun kepengurusan PWI Perwakilan Buleleng vakum, sehingga PWI Provinsi Bali yang dikomandani Dwikora Putra memberi mandat kepada penulis bersama-sama Putu Ngurah Aswibawan dan Gusti Bagus Mulyadi Putra dalam waktu 60 hari mampu melakukan re-organisasi wartawan di Buleleng ini.
 
Berkat bantuan semua jajaran awak media yang ada di Buleleng, pemegang mandat dari PWI  Bali berhasil melaksanakan musyawarah perwakilan di sebuah warung makan Ranggon Sunset milik Dewa Ketut Suardipa di kawasan Pantai Penimbangan, Singaraja.
 
Dipimpin Ketua PWI provinsi Bali Dwikora Putra didampingi penulis, sehingga musyawarah perwakilan berhasil memilih dan menetapkan Putu Ngurah Aswibawan sebagai Ketua, dan Dewan Penasehat Agung Suamba yang mantan Kepsta RRI Singaraja bersama penulis. Di samping itu, sang Ketua terpilih dibantu tim formatur selanjutnya membentuk kepengurusan dalam waktu dua pekan.
Melalui pertemuan formatur di ruang secretariat KONI Buleleng, tim formatur berhasil menyusun kepengurusan, dengan Dewan Penasehat  Agung Suamba dan penulis sendiri. Sebagai Ketua Perwakilan,Ngurah Aswibawan didampingi Ida Kade Karmaya sebagai wakil ketua, sedangkan Sekretaris Ketut Wiratmaja dan Bendahara Dewa Sutresna, dilengkapi beberapa seksi yang menunjang aktivitas organisasi wartawan di Buleleng ini.
 
Dari pengamatan penulis sebagai Dewan Penasehat, kepengurusan PWI Perwakilan dibawah kepemimpinan Ngurah Aswibawan ”sami mawon atau patuh dogen” dengan kepengurusan sebelumnya, kendati ketika dipimpin Nyoman Suasthawan, organisasi wartawan ini bergeliat. Namun, Suasthawan tersandung tugas sebagai PNS yang dimutasi ke Makassar dan sekarang membidangi marketing di RRI Denpasar.
 
PWI sebagai organisasi Wartawan Indonesia independen dan professional berasaskan Pancasila, bagi PWI Kabupaten Buleleng hendaknya menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun PWI dan HPN tanggal 9 Februari 2017 untuk bangkit sesuai program kerja yang sudah ditetapkan dalam musyawarah perwakilan saat pembentukan kepengurusan di kawasan Pantai Penimbangan.
 
Sebagai organisasi Wartawan Indonesia yang dilindungi oleh Undang Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik dan dalam melaksanakan profesinya, wartawan mendapat perlindungan hukum. Mengacu dengan landasan organisasi, PWI Kabupaten Buleleng hendaknya mampu menjalankan organisasi sesuai program kerja dan jangan menerapkan cara-cara yang dilakukan sekaa demen yang bergerak tanpa landasan organisasi formal tanpa dilindungi peraturan perundang-undangan. Astungkara.—
 
Penulis: Made Tirthayasa

Berita Terkait

Breaking News 3078839073575926802

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Populer

item