Alasan Wanita Menjadi Pemandu Lagu (PL)

Pemandu Lagu, Foto (c) : Ist Meski sering dianggap miring oleh masyarakat, namun para pekerja PL tersebut terkesan cuek, dan tidak ma...


Pemandu Lagu, Foto (c) : Ist
Meski sering dianggap miring oleh masyarakat, namun para pekerja PL tersebut terkesan cuek, dan tidak mau ambil pusing dengan keadaan di sekitarnya. Bagi mereka, pandangan masyarakat seperti itu tidak dipedulikan, yang penting bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
 
Buleleng, Dewata News.com — Berdasarkan investigasi Dewata News.com di lapangan, para pekerja PL tersebut umumnya tidak terikat oleh salah satu tempat karaoke. Mereka lebih memilih sebagai pekerja freelance, dan menjual jasa layanan “cuap-cuap” di sebuah room family karaoke.
 
Tarifnya pun bervariatif, yaitu antara Rp50 ribu sampai Rp200 ribu per jam. Pendapatan sebesar itu belum termasuk saweran dari sang pelanggan. Pemesanan PL biasanya dilakukan melalui perantara, seperti mami dan karyawan karaoke.
 
Pada Kamis, (25/12) malam, sekitar jam 22.00 Wita, Dewata News.com berhasil menemui dan berbincang dengan Denik (bukan nama sebenarnya), salah seorang pekerja PL di kawasan Kota Singaraja.
 
Gadis asli warga Singaraja yang baru berusia 21 tahun ini mengaku bekerja sebagai PL di beberapa tempat karaoke yang ada di Kota Singaraja. Dalam sehari, ia bisa mengantongi uang sebesar Rp400 ribu, bahkan lebih.
 
“Kalau dapat 400 ribu itu kecil, sebab bila sedang ramai saya bisa mendapat 600 ribu sampai 1 juta rupiah,” tuturnya.
 
Denik pun tidak menampik, jika ada tamu yang minta pelayanan lebih dari dirinya. Misalkan dipeluk atau bahkan sampai dicium saat berkaraoke. Namun, permintaan seperti itu sudah bukan hal aneh lagi bagi dirinya. “Kalau masih dalam batas kewajaran, ya kita maklumi saja,” ucap Denik.
 
Pekerja PL lainnya, sebut saja Cinta (bukan nama sebenarnya), gadis berusia 24 tahun ini mengaku bekerja menjadi Pemandu Lagu karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi. “Selain itu, juga untuk menutupi biaya kuliah,” kata mahasiswi semester IV di salah satu perguruan tinggi di Kota Singaraja.
 
Sementara itu, Merry (bukan nama sebenarnya), pekerja PL lainnya yang mengaku lebih memilih menjadi PL di tempat karaoke di luar kota, seperti café di kawasan Tukadmungga, Penarukan, bahkan sampai ke Seririt. “Saya enggak berani main di Singaraja, karena takut ketahuan oleh keluarga,” tuturnya.
 
Menurut dia, pendapatan PL di kota besar jauh lebih banyak dari pada di daerah. Dalam sehari Merry mengaku mampu mendapatkan uang hingga Rp2 juta. Selain menjadi PL, dirinya juga harus rela menemani tamunya mengkonsumsi minuman beralkohol. Tak heran, ia pun terkadang ikut mabuk bersama pelanggannya di dalam sebuah room karaoke.
 
“Jika tamu meminta yang macam-macam, saya sih tetap profesional saja. Tapi saya melakukan ini di tempat karaoke luar Kota Singaraja, kalau di Singaraja takut ribet,” ungkap Merry, sambil tertawa.
 
Tidak hanya menemui para petugas PL, Dewata News.com pun berbincang dengan sejumlah pelanggan. Anang (bukan nama sebenarnya), mengatakan, dirinya datang ke tempat karaoke di Singaraja baru dua kali. “Saya datang bersama teman-teman. Kalau untuk memesan PL, saya tinggal hubungi perantaranya, setelah itu tinggal menunggu di room,” katanya. (DN ~ TiR).—

Berita Terkait

Breaking News 5639418784505102530

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Pesta Kesenian Bali XXXIX

YURA Shop

Populer

item