STOP Isu SARA Menuju Pilkada Damai dan Berkualitas

Oleh: Made Tirthayasa Isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) kembali mencuat di saat Pilkada serentak tahun 2017 sudah semak...


Oleh: Made Tirthayasa

Isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) kembali mencuat di saat Pilkada serentak tahun 2017 sudah semakin dekat. Tahapan Pilkada Buleleng yang menjadi salah satu barometer pelaksaksanaan pemilihan kepala daerah di tanah air, khususnya Bali dalam beberapa waktu terakhir menjadi lebih memanas, karena isu SARA yang semakin kencang berhembus. Terlebih didukung keberadaan media sosial yang dengan kekuatannya dapat mengangkat sebuah informasi atau isu, menjadi lebih cerpat menyebar ke masyarakat.

Pada umumnya politisasi isu SARA digunakan demi kepentingan segelintir orang dan politik jangka pendek. Mereka tidak memperhitungkan, bahwa sebenarnya isu tersebut dapat menimbulkan dampak yang lebih luas dalam jangka panjang. Satu kondisi yang dikhawatirkan banyak pihak, menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah serentak 2017. Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya kita menyikapi isu SARA yang mungkin muncul menjelang Pilkada?

Tentunya kita semua sangat mengharapkan agar seluruh tahapan pelaksanaan pilkada tahun 2017 dapat ber¬langsung aman, santun, damai, dan minim isu-isu yang memecah-belah rakyat. Karena itulah ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi para calon dan tim suksesnya, masyarakat, maupun media yang ada. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpancing dengan informasi yang diterima. Jadilah warga masyarakat yang selektif dalam menerima informasi, masyarakat yang  lebih rasional dan masyarakat yang mengedepankan pelaksanaan Pilkada damai.

Komponen penting lainnya adalah media. Dalam situasi seperti sekarang ini, seyogyanya media massa lebih bijaksana dalam menurunkan berita dan informasi yang menyangkut isu SARA. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi petimbangan utamanya. Untuk mengantisipasi “liar”nya isu melalui media sosial, diperlukan penegakan hukum yang lebih kongkrit bagi mereka yang terbukti sengaja menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial, agar masyarakat lebih berhati hati.

Bagi kontestan, sudah seharusnya dapat menahan diri untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang dapat menimbulkan kontroversi, dan dapat merusak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hindari politisasi  isu SARA, praktek politik uang, hingga kegiatan kegiatan yang dapat memunculkan gesekan di  lapangan.

Isu SARA dan saling menjatuhkan sudah harus ditinggalkan, karena risiko  sosial dan ekonominya sangat tinggi. Sebaiknya para kontestan dan tim sukses lebih mengedepankan pertarungan ide, gagasan, program, dan saling menjaga etika serta kesantunan berdemokrasi.  Kita berharap, pilkada Bueeng bukan hanya menjadi barometer dan percontohan daerah lain, tetapi menunjukkan Bueeng sudah matang berpolitik, untuk menuju Pilkada Damai dan Berkualitas.

Berita Terkait

Breaking News 8179607255270524764

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

YURA Shop

Populer

item