Gubernur Pastika Bantu Ni Kadek Sri Astiti, Balita yang Nyaris Buta dari Batu Madeg

Karangasem, Dewata News. Com - Ni Kadek Sri Astiti, balita malang berusia 10 bulan yang  menjadi pemberitaan sejumlah media karena kond...


Karangasem, Dewata News. Com - Ni Kadek Sri Astiti, balita malang berusia 10 bulan yang  menjadi pemberitaan sejumlah media karena kondisinya yang nyaris buta mendapat perhatian serius dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Sri Astiti, putri pasangan suami istri Wayan Suparta (31) dan Ni Wayan Sariasih (25), nyaris tidak bisa melihat karena kedua matanya ditutup selaput putih. Tidak berhenti sampai disitu , kondisi Sri Astiti diperparah karena lengan dan kakinya yang juga mengalami keterbatasan, karena tidak berkembang dengan sempurna layaknya anak seusianya.  Demikian terungkap saat Tim Humas Pemprov yang ditugaskan oleh Gubernur Pastika mengunjungi  kediaman keluarganya di Dusun Batu Madeg, Desa Tista, Kecamatan Abang, Karangasem, Senin (1/8).

Saat tim berkunjung ke lokasi, Sri Astiti terlihat aktif, ceria dan selalu tersenyum. Melihat putrinya yang memprihatinkan , orang tua Sri Astiti pun hanya bisa pasrah menerima cobaan itu. Walau pun merasa sedih dengan kondisi putri keduanya yang tidak seperti anak normal sebayanya, Suparta mengaku akan berusaha sekuat tenaga merawat dan membesarkannya.   

Kondisi keluarga yang kurang mampu otomatis juga mempengaruhi upaya pengobatan Sri Astiti. Suparta menuturkan ia bersama istrinya hanya bekerja sebagai buruh tangkap babi. “Berangkat kerja subuh dan jam pulang tak pasti, ternyata tidak menjamin akan penghasilan yang besar,” ujarnya. Setiap bekerja kedua pasangan itu hanya mendapat upah 50 ribu, dan itu pun tidak rutin setiap hari, karena majikannya berjualan mengikuti pasar, yang rata-rata bekerja 2 kali dalam 3 hari. Upah sebesar itu diakuinya sudah sangat minim, apa lagi Suparta juga masih menanggung kedua orang tua dan neneknya yang tinggal dalam satu pekarangan. Kondisi tempat tinggal keluarga malang ini pun terbilang jauh dari kesan layak, sebuah gubuk berdinding gedeg dan tanah yang mereka tinggali pun bukan milik sendiri melainkan lahan pinjarnan milik sepupunya.

Kepala Dusun Batu Madeg, I Ketut Sukarena yang mendampingi tim dilokasi pun menjelaskan bahwa keadaan ekonomi keluarga Suparta yang terdaftar sebagai Rumah Tangga Sasaran ( RTS) diantara 107 RTS lainnya didusun tersebut. Beberapa upaya pun menurutnya sudah dilakukan pihak desa untuk membantu keluarga malang itu, seperti mendatangkan bantuan pengobatan dari pihak posyandu sejak Sri Astiti lahir hingga saat ini. Bantuan raskin pun sudah diterima rutin setiap bulan, serta sudah dibantu untuk memiliki kartu JKBM. Satu hal menurutnya yang belum bisa dibantu, yang masih menjadi bebannya selaku perangkat desa yakni keluarga Suparta belum bisa mendapatkan bantuan bedah rumah. Kendala kepemilikan lahan yang menjadi syarat penerima bantuan bedah rumah pun menurutnya akan diusahakan dengan membuat surat keterangan diijinkan menempati yang disepakati oleh pemilik dan keluarga Suparta. “Tiang beserta perangkat desa lainnya sedang mengurus surat keterangan itu, kami harus mempertemukan kedua belah pihak agar ada kesepakatan, sehingga tidak timbul masalah dikemudian hari,” ujar Sukarena.


Tim  Humas Pemprov yang turut  mengajak serta tim kesehatan dari RS Mata Bali Mandara yang diwakili Dokter Dr. Ayu Setiowati, melakukan pemeriksaan kondisi Sri Astiti untuk menentukan  penanganan selanjutnya. Setelah mengadakan pemeriksaan Ayu Setiowati menyatakan gangguan pada mata yang diderita oleh Sri Astiti disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh unggas, dan rentan menyerang kandungan saat memasuki usia 1 hingga 2 bulan. Virus tersebut menyerang mata yang menyebabkan kelainan anatomi mata berupa organ kornea tidak terbentuk secara sempurna. Jika kornea yang berfungsi penting sebagai organ masuknya cahaya tidak tumbuh, tentunya organ mata lain seperti retina tidak akan berfungsi juga. Ia pun dengan berat hati menyatakan kondisi yang dialami Sri Astiti merupakan kondisi permanen yang tidak bisa diobati, karena menyerang saraf. Tindakan yang bisa dilakukan selanjutnya hanya pengobatan untuk mencegah melebarnya infeksi, serta pelatihan low vision untuk mengenali lingkungan agar bisa menjalani kehidupan sehar-hari dan bisa meningkatkan kualitas hidupnya yang nantinya diharapkan bisa mandiri. Ia pun menyerahkan bantuan obat-obatan untuk menanggulangi infeksi.

Selain bantuan dari Gubernur Patika berupa beras dan uang tunai, Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Bali, Ny. Ayu Pastika melalui perwakilan BK3S Provinsi Bali juga  menyerahkan bantuan sembako dan sejumlah uang tunai bagi keluarga Suparta.

Sementara Tim Humas Pemprov yang dipimpin Kepala Bagian Publikai Biro Humas Setda Provinsi Bali, Made Ady Mastika, menyampaikan bantuan yang diberikan merupakan bantuan awal yang bersifat responsif, sambil kemudian berkoordinasi untuk  menentukan bantuan selanjutnya yang tepat bagi keluarga malang ini sehingga bisa mengurangi beban berat keluarga malang ini. 

Berita Terkait

Breaking News 858695198912695791

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

YURA Shop

Populer

item