Ayu Pastika Imbau Busana Pengantin Bali Agar Tetap Berpegang pada Pakem Budaya Bali

Denpasar, Dewata News. Com -  Dalam khasanah budaya tradisional Bali, perkawinan adat merupakan sesuatu yang sakral dan mendapatkan p...


Denpasar, Dewata News. Com - Dalam khasanah budaya tradisional Bali, perkawinan adat merupakan sesuatu yang sakral dan mendapatkan penghormatan tertinggi dari kehidupan manusia.  Keserasian antara prosesi perkawinan dapat dilihat dari balutan busana, tata rias pengantin  dan upacara adat yang dilangsungkan. Namun perkembangan trend fashion dunia saat ini sering kali mempengaruhi perkembangan fashion di berbagai daerah, termasuk Bali. 

Dengan semakin terbukanya perkembangan mode ini, busana pengantin kini dirasa mulai mengalami pergeseran dari pakemnya, sehingga cenderung kebarat-baratan dan terkadang modifikasi yang dilakukan terkesan vulgar. Demikian disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika saat menghadiri acara Workshop Kewanitaan Materi Busana Adat Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali ke XXXVIII 2016, bertempat di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar pada Minggu (03/07).

Lebih lanjut Ayu Pastika mengimbau agar busana pengantin Bali dapat kembali berpegang kepada pakem budaya Bali yang mengandung makna filosofis. Ia tidak menampik bahwa perkembangan mode dan inovasi trend busana dari para desainer di Bali tentunya tidak bisa dibendung. Namun ia menyarankan hendaknya pada event upacara yang bersifat sakral seperti pernikahan adat pengantinnya menggunakan busana   sesuai dengan pakem daerah masing-masing. Ia menilai sering kali para pengantin yang mengenakan busana modifikasi yang membuat dirinya sendiri tidak nyaman, seperti belahan kain yang terbuka dan memakai bahan "tile" yang sebenarnya bahan tersebut tidak digunakan dalam busana pengantin tradisional.


"Banyak saya temui busana pengantin yang memakai bahan-bahan tile, yang tentuya mengurangi nilai etika dan estetika dari busana tradisional pengantin bali, selain itu Kain yang dipakai juga memiliki belahan ditengah Dan membuat para pengantin tersebut tidak nyaman", ujarnya. Untuk itu, ia menghimbau kepada para desainer, salon atau penata rias yang ada di Bali agar memperhatikan  pakem busana adat Bali khususnya untuk momen yang sifatnya sakral. “Sedangkan pada saat resepsi silahkan dikreasikan sesuai dengan keinginan masing-masing,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut juga dihadirkan  materi workshop disampaikan oleh dua narasumber yaitu desainer Bali Tude Togog  dan Cok Abi yang menyampaikan materi mengenai busana adat kepura, busana pengantin modifikasi dan busana kantor. 

Menurut Tude Togog, saat ini busana adat kepura baik yang dikenakan oleh para remaja maupun dewasa telah mengalami pergeseran. Ia menilai bahwa saat ini banyak busana kepura yang semakin tidak memiliki nilai etika dan estetika yang baik. Untuk itu, ia menyampaikan beberapa tips untuk busana kepura remaja wanita, diantaranya menggunakan pusung gonjer untuk remaja dan pusung tagel untuk dewasa (rambut harus ditata rapi tidak boleh diurai), baju kebaya yang digunakan harus sebatas pergelangan tangan (7/8), Kain brokat yang digunakan hendaknya memiliki motif rapat, menggunakan selendang dan bukan obi, untuk kain (kamen) harus ditata secara rapi dan menutupi kaki, sedangkan untuk alas kaki hendaknya menggunakan bahan yang nyaman, selain itu aksesoris Dan make up atau rias wajah yang digunakan untuk kepura juga tidak boleh berlebihan. 

Sedangkan pada busana pria, ia menyarankan agar dalam menggunakan destar/udeng tidak berbentuk "songkok" layaknya orang jawa, menurutnya udeng tersebut bisa diikat satu kali atau dua Kali sesuai dengan keinginan Dan bentuk wajah sehingga pada saat pergi kepura dan melakukan persembahyangan kita merasakan kenyamanan. 

Ia berharap dengan adanya acara workshop busana setiap tahun ini, dapat memberikan manfaat Dan masukan yang positif bagi seluruh masyarakat Bali , agar turut menjaga pakem Dan filosofi busana Bali ditengah arus globalisasi dan trend mode yang berkembang saat ini.

Momentum tersebut juga dimeriahkan oleh parade busana kepura, busana pengantin dan busana kantor menggunakan kain ikat, oleh perwakilan 9 Kabupaten Kota se-Bali. Acara tersebut juga diahadiri olehTP PKK Kab/Kota se-Bali , serta mendapat apreasiasi yang tinggi dari masyarakat umum yang ikut menyaksikan acara tersebut. (DN - HuM)

Berita Terkait

Breaking News 6208699737226193444

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

YURA Shop

Populer

item